Bung Karno Pejuang yang Dihilangkan

0
342

Oleh: Faidi Ansori

“Saya tidak mau tahu ‘Si Bung Besar’ itu baik dan buruk dimata masyarakat Indonesia. Tetapi menurut pendapat saya, beliau adalah orang penting Indonesia dan manusia pilihan diantara banyak bangsa Indonesia yang lain. Beliau salah satu pejuang dengan kelebihan dan kekurangannya,” – Bung Slenteng

Pada masa kejayaan diri Bung Karno, beliau banyak digelari julukan spesial. Ada yang mengatakan sebagai Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi, Mandataris, Walijul Amri, dan Penyambung Lidah Rakyat. Namun tragisnya gelar-gelar tersebut seakan hilang ditelan bumi atau dalam bahasa Jawa sirno hilang kertaning bumi, dicopot jasa perjuangannya, dan dihilangkan. Maka jangan heran jika Bung Karno banyak tidak dapat dikenal lagi sebagai pejuang dengan rela hati berkorban untuk kemerdekaan rakyat Indonesia, terkecuali hanya dengan tahu diri beliau sebagai Presiden pertama Indonesia, dan masuk catatan sebagai pahwalan nasional.

Bung Karno salah satu pejuang kemerdekaan sangat mungkin dan dimungkinkan hilang kebesarannya dalam perjalan sejarah bangsa Indonesia, jika propaganda kebohongan semakin marak diluncurkan kemuka masayarakat, terutama disaat masa Orde Baru (Orba) nama Bung Karno sulit bisa diterima ditelinga rakyat, karena fitnah terhadap dirinya begitu gencar dilakukan.

Kekejaman pemerintah Orba dengan rencana-renca yang dilancarkan tak dapat dipungkiri kebohongannya. Namun semua itu pasti akan terungkap jika kita benar-benar melihat dengan mata hati juga fikiran jernih. Maka sebab alasan itulah (kebohongan Orba) saya menuliskan artikel jengkel ini untuk saudara-saudara sebangsa Indonesia agar bisa memahami Bung Karno dengan baik dan benar.

Pernahkan kita sadari bahwa Bung Karno tidak hanya dimatikan sebagai diri dengan menghapus nama kebesaran yang telah melekat dalam setiap diri rakyat Indonesia. Usaha Orba sebenarnya tidak hanya itu, namun yang paling fital adalah upaya pembunuhan dengan mencoba membuang ajaran-ajaran gemilang seperti Marhaenisme, Pancasila (yang origenal), Trisakti, Berdikari, Nasakom, dan lain-lain dengan memberangus karya-karya-nya (buku), dan ini terjadi hingga sekarang (2018) di Padang, Sumatera Barat, dan Kediri, Jawa Timur, bahkan diera Orba foto-foto Bung Karno dicopot sehingga tidak lagi banyak dilihat oleh raykat dengan leluasa sebagai pemimimpin pertama dan pejuang Indonesia.

Upaya kebohongan rezim Orba terhadap Bung Karno ternyata masih banyak melekat dimasyarakat zaman pos-modern ini sebagai sosok menakutkan. Oleh karena itu siapa yang sebenar kejam?. Persoalannya kini bukan saja ”siapakah Sukarno”, tetapi juga ”siapa kita sebenarnya dahulu dan siapa kita sekarang?” Apa dahulu kita yang munafik atau kita sekarang kita munafik”,[1] demikian sejarawan Onghokham menuliskan.

Disini, saya terlebih dahulu ingin menjelaskan siapa Bung Karno dan apa saja yang telah beliau lakukan dan berikan untuk bangsa ini dari ketertindasan bangsa penjajah, sehingga kita bisa dengan leluasa mengatakan dengan bijak apa pantas beliau disebut sebagai pejuang ataukah pecundang. Baru setelah saya terangkan sisi-sisi soal-soal tadi, nanti akan saya terangkan kenapa dan sebab alasan apa Bung Karno dihilangkan perannya ditengah-tengah keramaian rakyat Indonesia yang terkenal santun dan beradab.

Rakyat Jawa pada hakikatnya tidak mudah meninggalkan mitologi, ini terbukti ketika ‘Ratu Adil’ masih banyak dipercayai, baik sebagai konsep dengan kenyataan keadilan dan kesejahteraan. Orang Jawa banyak percaya bahwa Bung Karno adalah representatif dari ‘Ratu Adil’ itu sendiri karena dianggap sebagai penyelamat rakyat.

Mitologi ‘Ratu Adil’ bukan tanpa sebab lalu muncul begitu saja. Bung Karno juga tidak langsung besar berpengaruh, tatapi beliau dikenal karena tindak tanduk perlawanan dan keteguhan hati dalam belajar dan berjuang. Sebagaimana sejarah menuturkan dengan pertanyaan pertama saya diatas, ‘siapa Bung Karno dan apa saja yang telah beliau lakukan dan berikan untuk bangsa ini dari ketertindasan oleh bangsa penjajah?’. Pertanyaan ini tentu harus saya jawab walaupun tidak dapat memuaskan hasrat dari saudara-saudara pembaca.

Perlu diketahui, Bung Karno merupakan anak keluarga dengan tingkat perekonomian yang sedikit lebih baik dari pada rakyat Marhaen (panggilan untuk kelompok bawah, seperti petani, nelayan, dan kelompok miskin lain) pada umumnya, dari kalangan priyai rendahan pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo, trah Kerajaan Kediri, sedangkan ibunya Ida Nyoman Rai dari trah Kerajaan Singaraja Bali. Ibu Bung Karno masih keturunan kalangan Brahmana.

Dari kedua keturunan kerajaan tersebut, Bung Karno teringat akan apa yang dikatakan oleh Ibu Nyoman Rai. Sebagaimana yang ditulis oleh Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang dikutib oleh Bung Aji Dedi Mulawarman dalam bukunya ‘Jang Oetama Jejak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto’ ditulis, “Jangan sekali-kali kau lupakan, Nak, bahwa kau adalah Putra sang Fajar.”[2] Ucap Ibu Nyoman Rai dengan kesungguhan terhadap Bung Karno.

Dari perkataan itulah kesadaran Bung Karno mulai tumbuh. Kutipan yang sama, Bung Aji Dedi menuliskan kembali: “Tugas hidupku terbentang di hadapanku……Aku melangkah maju memenui perjanjianku dengan sang nasib,”[3] tukas Bung Karno.

Upaya untuk memperjungkan rakyat Indonesia, Bung Karno mengawali dengan mempelari ide-ide besar seperti Nasionalisme, Islam, Sosialisme, dan Marxisme. Itu semua diperoleh ketika masih mondok di rumah Pak Tjokroaminoto Pimpinan Organisasi Sarekat Islam (SI). Berkat berguru tehadap Pak Tjokro beliau dapat keterangan Nasionalisme, Islam, dan Sosialisme. Dari Pak Alimin dan  Pak Muso beliau kenal akan Marxisme.

Toko-tokoh itulah yang membangun Bung Karno dikemudian hari. Sehingga wajar jika Bung Karno muda menjadi orang yang dikejar-kejar oleh Belanda dan dianggap pemberontak, bahkan sampai ditangkap, dibuang, dan dipenjarakan. Nasib rakyat memanggil jiwanya. Rakyatlah menjadi perhatian utama dalam perjuangan sorang diri kelahiran Surabaya itu.

Bung Karno muda, menjadi pemuda ‘bandel’. Beliau bertindak bringas, tidak mau diam melihat persoalan bangsanya dari ulah-ulah penyakit penjajah, dan itu semua terbukti ketika ucapan-uapan beliau menjadi gerakan-gerakan perlawanan dengan ikut serta dalam pendirian organisasi Algemene Studie Bandung pada tahun 1926 sebelum tamat dari bangku Technische Hoge School (HBS) sebagai bentuk gerakan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Dari organisasi itu juga terbitlah tulisan-tulisan Bung Karno di ‘Indonesia Muda’.

HBS juga menjadi tempat belajar Bung Karno dalam memahami ajaran pembebasan. Beliau banyak menelan buku-buku tentang Nasionalisme dan Marxisme. Buku-buku itulah yang nanti menjadi alat pembelaan dipengadilan terhadap pemerintah Hindia Belanda dengan judul ‘Indonesia Menggugat’.

Tokoh-tokoh Nasionalis, Sosialis-Demokrat, dan Marxis seperti P.J. Veth, Snouck Hurgronje, P.J. Troelsrta, H.H. Van Kol, Rolan Holst, Otto Beur, H.N. Brailsford, Karl Kautsky, Karl Marx, dan lain-lain tidak menjadi asing diruang pikiran Si Bung muda.

Pada usia 16 tahun Si Bung besar sudah tergerak hatinya untuk memperjuangkan nasib bangsa Indonesia, lebih khusus pada mereka yang ditimpa kemiskinan dan penindasan. Pada usia tersebut beliau masih di bangku HBS, dan tahukan kita pada apa yang dilakukan pada waktu itu. Beliau sering bolos kuliah, tapi bukan berarti pembolosan itu atas dasar karena malas, melainkan beliau ingin tahu dengan mata telanjang apa yang terjadi dan dilakukan oleh rakyat Indonesia pada umumnya. Dan itu sama sekali sangat jauh berbeda dengan kita (sebagai mahasiswa). Kita sering bolos karena banyak ngopi dan tergoda dengan kenikmatan membaca, diskusi-diskusi, juga karena disebabkan bermalas-malasan. Inilah yang membedakan kita dengan Bung Karno. Jika beliau bolos, lalu dimanfaatkan untuk berjalan-jalan keselatan Kota Bandung dan bertemu dengan seorang petani miskin dengan mempunyai sekitar sepertiga hektar tanah, dan dilanjutkan dengan mewawancarai akan keadaan Si Petani tersebut. Sedangkan kita bolos dan jalan-jalan ketempat wisata untuk melepaskan keruwetan pikiran sambil refreshing.

Oleh karena itu perlu sepatutnya kita mencontoh kepada Bung Karno, sebab kebolosannya dengan menemui seorang petani kecil yang bernama Marhaen menjadi suatu ajaran, yaitu Marhaenisme dan dianut oleh partai besar seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (Partindo), Partai Rakyat Malaya (PRM) di Malaysia, dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sekarang. Itulah Bung Karno muda. Dengan dorongan Ideologi Marhaenisme penjajah Belanda, Jepang, dan lai-lain merasa getir sebab cita-cita dari Marhaenisme adalah Indonesia merdeka. Kapitalisme, Imperialisme, kolonialisme, neo-kolonilisme, dan fiodalisme menjadi musuh bebuyutan ajaran Si Bung tersebut.

Ditahun 1927 Bung Karno tampil sebagai pemimpin PNI. Di PNI ini beliau berjuang memberikan jiwa dan raga untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. PNI lahir sebagai organisasi pemersatu karena pada awal pergerakan-pergerakan nasional banyak organisasi terpecah belah.

PNI dengan pimpinan Bung Karno mampu menyatukan keanekaragaman suku-suku, agama-agama, aliran pemikiran didalam masyarakat Indonesia. Apalagi oraganisasi massa seperti Sarekat Islam (SI) mulai ngeropos dari dalam dengan pecah menjadi dua, SI Merah dan Putih atau Hijau. SI Merah nantinya akan menjadi Partai Komunisme Indonesia (PKI) dibawah dipimpin Semaoen, sedang SI Putih atau Hijau tetap dipimpin oleh Pak Tjokro.

Dari perpecahan ditubuh SI, Bung Karno mengajak untuk bersatu melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan tidak boleh berpandanga phobi “Saya bukan orang komunis, saya tidak memihak! Saya hanya menghendaki persatuan, kesatuan Indonesia dan persaudaraan di antara berbagai gerakan.”[4] Beliau percaya karena hanya kesadaran persatuan itulah kemerdekan sebagai negara dan bangsa bisa tercapai.

Ketika semua cita-cita persatuan terbentuk maka terbuktilah perjuangan Si Bung Besar bisa diuji, apakah beliau pejuang ataukah pecundang. Tatapi yang pasti Bung Karno berusaha dengan sekuat jiwa dan raga untuk tercapainya revolusi, hingga janji kemerdekaan olehnya dibuktikan terhadap bangsa Indonesia ketika kemerdekaan didapat pada 17 Agustus 1945.

Itulah keterangan dari soal pertama ‘apa saja yang telah beliau lakukan dan berikan untuk bangsa ini dari ketertindasan bangsa penjajah?’ sudah saya jawab walapun dengan keterangan sederhana. Sekarang masuklah pada pertanya terakhir ‘kenapa dan sebab alasan apa Bung Karno dihilangkan ditengah-tengah keramaian rakyat Indonesia yang terkenal santun dan beradab?’ padahal beliau berjuang mati-matian untuk rakyat Indonesia.

Akibat tragedi 30 September 1965 yang dikenal dengan pemberontakan G 30 S kondisi negara dan bangsa Indonesia mulai goyah. Ada yang mengatakan Pak Hartolah menjadi dalang dari kejadian itu, ada juga menyebutkan Bung Karno terlibat didalamnya, dan pendapat lain lagi CIA mengambil kesempatan dalam upaya pembantaian, dari perspektif lain pula ada mengatakan, Sebaliknya ada juga teori bahwa dalam peristiwa ini selaluruh Partai Komunis Indonesia terlibat, dan sebab itulah orang PKI layak dibasmi,[5] tetapi yang pasti terjadi adalah pembantaian bagi orang-orang tidak bersalah dengan mengorbankan manusia tanpa berperikemanusian. Siapapun yang mendalanginya dan terlibat dalam gerakan tersebut sungguh dikutuk oleh peradaban.

Didalam persoalan lain lagi berpendapat, bahwa kepemimpinan gaya penguasaan tunggal (strogman) yang dipraktekkan oleh Presiden Sukarno…….menimbulkan dampak negatif yang luas di masyarakat.[6] Inilah yang menjadi cikal bakal kenapa Bung Karno banyak hilang lembaran-lembaran perjuangan diwaktu masa muda dengan tenggelamnya beliau dimasa tua.

Saya tidak mau menuduh yang tidak-tidak terhadap rezim setelah Bung Karno lengser, namun saya juga meneliti dan membaca sejarah apa alasan esensialnya kenapa Si Bung tidak lagi sering disebut-sebut oleh Rakyat. Sebenarnya pangkal dari itu semua karena suatu ajaran. Pak Harto tidak mungkin menghilangkan nama Bung Karno kalau tidak desebabkan Marxisme-Komunisme. Pak Harto juga tidak bisa rela jika Pancasila dasar negara digantikan ajaran Komunisme. Orba mengacaukan pengertian Marhaenisme, Marxisme, dan Komunisme, padahal dari tiga ideologi tersebut ada perbedaan yang mendasar.

Alasan Komunis-Marxisme menjadi landasan serangan kekuatan Pak Harto dengan menyinggungkan kepada ajaran Marhaenisme Bung Karno. Pak Harto faham bahwa Marhaenisme yang digali oleh Si Bung, tentu sangat erat hubungan dengan Marxisme. Seperti yang sering dikatakan, Marhaenisme, demikian Sukarno, adalah Marxisme yang dipraktekkan atau diterapkan di Indonesia.[7] Karena hubungannya dengan Marxisme inilah yang membuat pengaruh Bung Karno menurun dan dengan sendirinya hilang banyak dari sumbangsihnya. Apalagi Orba melakukan penataan P4 yang melarang ajaran Marxisme dengan diberlakukan TAP MPRS No. XXXIII tahun 1967 No tentang pelarangan mempelajari ajaran Si Bung.

Alasan lain lagi juga munjul dari perkataan Daniel Live (1999), dia mengatakan. “Saya semakin berfikir bahwa Bung karno agak menderita waktu itu. Karena pada akhirnya dia tidak bisa banyak mempengaruhi keadaan. Pertama, karena dia tidak mempunyai organisasi yang baik, yang efektif, yang selalu bisa dikerahkan. Kedua, saya tidak yakin Bung Karno punya suatu imajinasi politik yang sangat jauh. Seperti orang lain juga, dia sangat terikat pada ide-ide kolonial tahun 1920-30-an … Ketiga, dia memang terlalu banyak dipengaruhi oleh penjilat disekitarnya,[8]” ini menjadi salah satu bukti tentang diri Bung Karno, dengan alasan-alasan ini juga bisa dijadikan alat untuk menghilangkan kekuatan kekuatan diri Si Bung sebagai Presiden dan pejuang.

Pendapat-pendapat tadi bisa menjadi alasan sebab apakah Bung Karno dilihangkan. Terlepas setuju atau tidak dari apa yang saya jelaskan, itulah kenyatan sejarah. Karena alasan itu juga sekarang kita tidak lagi banyak mengetahui gagasan besar Bung Karno serta jejak perjuangannya (terkecuali jika masuk pada oraganisasi berbasiskan ajaran Si Bung, tentu apabila kita masih melek terhadap sejarah). Tulisan ini saya serahkan kepada pembaca. Kacamata itulah pakaian dari gambaran saya dari pragraf pertama sampai akhir, tetapi kita dituntut untuk bijak melihat kejadian.

Kumpulkanlah pikiran dan pendapat orang lain agar kita tidak membabi buta dengan apa yang kita aggap benar dan salah. Didalam pikiran kita masing-masing masih ada pikiran orang lain diluar sana. Maka dengan alasan inilah saya tulis. Semoga bermanfaat.

Faidi Ansori, alumni Madrasah Aliyah (MA) di Pondok Pesantren (Ponpes) Banyuanyar, Pamekasan, Madura periode 2009/2012. Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Salah satu pendiri Farum Mahasiswa Peduli Kadur (FMPK), Salah Satu Pendiri Organisasi Pancawarna, Ketua Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) periode 2015/2016, dan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC), GMNI Bangkalan, Madura, di Kabiro Kajian (selama dua periode) 2017/2020.


[1] Onghokham,  Rakyat Dan Negara, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), hal. 9

[2] Aji Dedi Mulawarman, Jang Oetama Jajak dan Perjuangan H.O.S. Tjokroaminotoi,(Yokyakarta: Galang Pustaka, Cetakan II, 2016), hal. 230

[3] Ibid, hal. 230-231  

[4] Onghokham,  Rakyat Dan Negara, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), hal. 15-16

[5] Imran Hasibuan & Togi Simanjuntak, BAYANG-BAYANG PKI (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, Cetakan II, 1996), Hal. xiv

[6] Baskara T. Wardaya SJ, Bung Karno Menggugat! Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ‘65Hingga G 30 S, (Yokyarta, Cetakan III, April 2006), hal. 247.

[7] Jeanne S. Mintz, Muhammad, Marx dan Marhaen Akar Sosialisme, Penerjemah Zulhilmiyasri, (Yokyakarta: Cetakan II, 2003), hal. 2

[8] Ibid, hal. 227

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here