Semangat Berbangsa dan Bernegara

0
164

Sebuah Refleksi 65 Tahun GMNI Merawat NKRI

Oleh: Marianus K. Haukilo, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi DPC GMNI Kupang

Tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat mengiringi derap langkah dan dinamika perjuangan para Marhaenis. Rumah bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menginjak usianya yang ke- 65 tahun. Tentu ini bukanlah usia yang singkat. Lahirnya GMNI pada 23 Maret 1954, sebagai bukti komitmen dan rasa cinta pada persatuan nasional. Gerakan Mahasiswa Merdeka, Gerakan Mahasiswa Marhaenis dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia meneguhkan jiwa dan mengikrarkan diri sebagai organisasi yang menganut azas Marhaenisme dan memilih melebur menjadi satu membentuk GMNI.

65 tahun telah berlalu meninggalkan rekam jejak yang tak terlupakan dalam bingkai perjuangan bersama merawat NKRI. Marhaenisme sebagai azas dan cara perjuangan yang progresif-revolusioner untuk mewujudkan sosialisme Indonesia, masih dipegang teguh oleh seluruh korps GMNI. Dibawah motto pejuang pemikir – pemikir pejuang, Kader GMNI senantiasa setia dalam berjuang untuk memenuhi tujuan suci proklamasi 1945 serta cita-cita nasional bangsa dan negara Indonesia. Hingga hari ini, GMNI masih tetap konsisten menjaga Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Sosialisme Indonesia sebagai tujuan akhir perjuangan nasional Indonesia. Sosok Bung Karno sebagai tokoh sentral gerakan selalu menjiwai semangat dan roh perjuangan para kader GMNI.  Ajaran dan pemikiran Bung Karno selalu menjadi dasar pijak dan metode konstruksi berpikir bagi para Marhaenis untuk menyatakan sikap dan mengambil tindakan dalam menghadapi badai zaman yang selalu meniscayakan setiap persoalan bangsa dan negara.

Dalam pidato HUT RI ke- 21 tahun pada 17 Agustus 1966, Presiden Soekarno menyampaikan secara tegas dan jelas bahwa “Not leave history”, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Pasang naik dan pasang surutnya gerakan dan perjuangan GMNI bersama rakyat harus tetap menjadi spirit bagi kader GMNI hari ini. Pengalaman pahit masa lalu yang pernah dialami oleh korps GMNI harus menjadi cambuk agar dengan tegas menyatakan kepada publik bahwa GMNI selalu setia menjaga Pancasila sebagai ideologi negara, Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai rumah bersama dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa. Berbagai prototipe yang disematkan kepada GMNI di rezim orde baru harus menjadi api yang terus menyulut semangat para kaum nasionalis dalam mungukuhkan komitmen dan konsistensinya sebagai organisasi yang berpaham kebangsaan serta memiliki tugas dan tanggungjawab sejarah dalam merawat persatuan dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan, dengan Marhaenisme sebagai azas dan cara perjuangannya, telah membulatkan tekad untuk berjuang bersama demi rakyat hingga terwujudnya masyarakat yang tata-tentram kerta raharja, yaitu masyarakat adil dan makmur tanpa exploitation l’homme par l’homme dan  exploitation de nation par nation, artinya tujuan perjuangan GMNI ialah terciptanya suatu kondisi susunan masyarakat dan negara tanpa penindasan manusia atas manusia dan tanpa penindasan bangsa atas bangsa.

Bagi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kapitalisme, imperialisme, kolonialisme apapun bentuknya tetap menjadi musuh bersama yang harus dihilangkan dari bumi Indonesia dalam bentuk perjuangan nasional secara gotong-royong. Kehadiran para kapitalis dan imperialis di bumi pertiwi Indonesia dengan janji akan memberikan kesejahteraan bagi  rakyat Indonesia hanyalah sebuah janji manis yang terselubung topeng penjajahan dan misi ingin mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia Indonesia. Karena watak dari kapitalis yang serakah (rakus) maka ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaan adalah cara untuk mengakumulasi modalnya yang tiada batas. Oleh karena itu, GMNI selalu menjadi garda terdepan dan menjadi pelopor dalam mengorganisir kekuatan massa rakyat melawan segala bentuk neokapitalisme dan neoimperialisme termasuk kapitalisme oleh bangsa sendiri.

Proyeksi GMNI Masa Depan

Tantangan bagi GMNI ke depan tidak akan pernah ada akhir. Tantangan-tantangan itu selalu muncul pada setiap ruang dan waktu sejalan dengan perkembangan peradaban secara nasional maupun global. “Revolusimu Belum Selesai”. Ungkapan Bung Karno inilah yang selalu menjadi dorongan bagi jiwa dan raga setiap insan nasionalis agar terus menggelorakan semangat perjuangan tanpa henti. Ungkapan yang membakar roh perjuangan ini pula lah yang terus menghantarkan para kader GMNI untuk memberanikan diri menyelam lebih dalam ke bara apinya perjuangan untuk menunaikan tugas suci revolusi.

Secara kuantitas, jumlah anggota dan kader GMNI di seluruh Nusantara telah mencapai jutaan. Namun tantangan terhadap bangsa dan negara pun selalu bervariasi datangnya dengan berbagai corak dan ciri khasnya tersendiri, baik tantangan eksternal maupun internal.

Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada tahun 2018 melakukan survei tentang persepsi masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. LSI Denny JA merilis bahwa dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, masyarakat yang pro terhadap Pancasila makin menurun dan sebaliknya yang pro NKRI bersyariah justru meningkat. Menurut hasil survei diketahui bahwa publik yang pro terhadap Pancasila telah menurun sebesar 10% sejak 2005 yaitu 85,2% pada tahun 2005 menurun menjadi 75,3% pada 2018. Sedangkan Masyarakat yang pro NKRI bersyariah sebesar 4,6% (tahun 2005), mengalami peningkatan sebesar 9% menjadi 13,2% pada 2018.(news.okezone.com).

Kondisi di atas tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, apalagi oleh anggota dan kader GMNI. Sebagai organisasi mahasiswa yang konsisten menjaga ideologi Pancasila sebagai dasar negara, GMNI sebagai anak kandung ideologis Bung Karno memiliki tanggungjawab yang besar untuk memproteksi Pancasila dari rongrongan ideologi lain yang dapat memecah-belah dan menghancurkan persatuan Indonesia. Pancasila harus menjadi leitstar (bintang penuntun) dan juga sebagai way of life (Pandangan hidup) dalam  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Diusianya yang ke-65 tahun ini, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) telah menunjukkan bukti eksistensinya sebagai organisasi gerakan yang menjadi pelopor dalam menjaga Pancasila, merawat NKRI, menyulam tenun kebangsaan dari berbagai latar belakang suku, ras, agama dan golongan yang berbeda sehingga Merah-Putih dan Garuda Pancasila sebagai simbol kebanggaan dan nama besar bangsa Indonesia masih berkibar dan tertaktha megah di seluruh penjuru dunia. 

Di era Revolusi Industri 4.0 sekarang, sebagai organisasi yang berjuang secara dinamis-dialektis, GMNI juga harus meleburkan diri dalam setiap arus gerak perubahan zaman yang begitu cepat. Dengan TRISAKTI Bung Karno sebagai tuntunan dalam berpikir, bersikap dan bertindak maka GMNI harus hadir menjadi wadah untuk meneguhkan wibawa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya. GMNI harus terus mendidik dan menggembleng rasa nasionalisme dan patriotisme anak bangsa, melaksanakan nation and character building dengan penuh komitmen dan pengabdian serta mampu menjadi benteng dalam memproteksi pengaruh gaya hidup Barat (westernisme) yang ingin merusak dan menghancurkan karakter kebangsaan terutama bagi generasi muda Indonesia.

Neokapitalisme dan neoimperialisme selamanya akan menjadi lawan permanen bagi GMNI selama kehadiran para kapitalis dan imperialis hanya ingin mengeksploitasi tanpa menguntungkan bangsa Indonesia. Oleh karena itu GMNI harus tetap konsisten pada prinsip nonkooperatif dan membangun machtvorming bersama massa rakyat dan berjuang secara progresif-revolusioner melawan segala bentuk penjajahan modern yang hari ini menghinggapi tubuh dan jiwa bangsa Indonesia.  Rezim penjajahan dengan menduduki wilayah jajahan secara fisik telah berakhir. Tetapi penjajahan mental dan karakter makin meluas dan semakin masif mewabah hingga ke lapisan masyarakat pedesaan yang justru masih kental dengan kultur lokalnya. Rasa individualisme, hedonisme, konsumerisme dan materialisme merupakan musuh bersama hari ini. Hegemoni paham yang bertentangan dengan jiwa dan semangat gotong-royong ini menyusup melalui perkembangan teknologi dan informasi. Ternyata dampak era teknologi digital tidak hanya membawa manfaat positif tetapi justru semakin melunturkan jiwa dan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Jika tidak dilakukan upaya preventif maka akan semakin merusak karakter kebangsaan Indonesia yang dikenal bangsa gotong-royong dan berbudi pekerti luhur.

Semoga di usia yang ke-65 tahun ini, seluruh anggota dan kader GMNI di seluruh Indonesia semakin memiliki kesadaran dalam meneguhkan komitmen kebangsaan dan tetap konsisten dalam barisan nasionalis untuk melawan segala penjajahan modern yang bertameng perkembangan zaman (globalisme), menuju masyarakat sosialis Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur secara spiritual maupun material.

Mengakhiri ulasan singkat ini, saya ingin mengutip kembali amanat Bung Karno pada Konferensi Besar GMNI di Kaliurang-Yogyakarta  pada 17 Februari 1959:

                        Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa!

                        Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen!

                        Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni

                        Dan agar yang tidak murni terbakar mati. Merdeka…!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here