Peradaban Kampus

Peradaban Kampus

Oleh: Dendy Muhazan (Kader GMNI sumbawa) 
Peradaban secara terminologi sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah budaya yang populer dalam kalangan akademis. Dalam artian yang sama, peradaban berarti perbaikan pemikiran, tata krama atau rasa. Berbicara mengenai mahasiswa rasanya kurang lengkap jika kita tidak mengulas mengenai tempat dimana mahasiswa menjalani kehidupannya sebagai cendekia muda. 

Tempat tersebut tentunya adalah Universitas atau perguruan tinggi. Lebih akrabnya, tempat tersebut disebut kampus. Kampus, dalam bahasa latin adalah campus yang berarti “lapangan luas”. Singkatnya, kampus adalah tempat menuntut ilmu bagi para mahasiswa. Kampus sebagai taman intelektual merupakan pusat dari peradaban manusia modern. Berbagai permasalahan sosial,ekonomi,politik pada abad 21 ini merupakan tantangan yang harus dijawab oleh kalangan intelektual atau mahasiswa dengan menggunakan pendekatan rasionalistas dan empiris. Lalu seiring dengan perkembangan dan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan bangsa ini semakin menaruh harapan besar terhadap sumbangsih pemikiran mahasiswa. Jadi dengan kata lain, pemikiran mahasiswa tetap relevan dalam menjawab problem multi dimensi zaman sekarang maupun akan datang. Beberapa kalangan luas berasumsi bahwa kampus adalah industri yang akan memproduksi manusia-manusia yang diharapkan memiliki intelektualitas yang tinggi.

Justru realitas yang terjadi pada hari ini berbanding terbalik dengan narasi yang ada, esensi mahasiswa dan kampus. Kedua-duanya seakan kehilangan arah serta jati dirinya. Mahasiswa seperti dininabobokan dalam waktu yang tidak ditentukan, ruang-ruang kelas sebagai tempat berdialektika, kritis, perkelahian intelektual dalam menyampaikan argumentasi kini terasa diabaikan dan sudah tidak dirindukan.
 Ironisnya diperparah  era informasi saat ini, historis paradoks suatu fenomena yang memperlihatkan pertentangan dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai masyarakat informasi akses yang begitu sangat mudah justru tidak dimanfaatkan sebagai media eksplorasi sumber informasi dalam memperkaya khazanah pemikiran, baik dalam melahirkan ide maupun gagasan.
Kekhawatiran berlanjut interaksi dalam kehidupan dunia maya kadang tidak merepresentasikan dunia nyata yang justru miskin interaksi secara langsung, interaksi antar mahasiswa maupun dengan dosen. Sehingga label kampus wadah pengkaderan para pemimpin masa depan bangsa berkonotasi minim keadaban. Jika kondisi seperti ini kampus hanya akan menjadi industri yang memproduksi manusia yang mati akan rasionalitasnya, relasi antara birokrat kampus dengan mahasiswa seperti sudah tidak terbangun dengan baik. Mahasiswa yang notabenennya sebagai unsur penting kampus dalam pembangunan teraleaniasi, segala kebijakan-kebijakan kampus menjadi dogma.

Itu disebabkan oleh perilaku hedonisme mahasiswa yang mewabah layaknya virus ganas, ketidakpekaan terhadap lingkungan justru menodai Tri Dharma Perguruan Tinggi, arah intelektual kini terjebak pada logika pasar itu dibuktikan dengan sikap 3 D+1 P datang,duduk,dengar, dan pulang demi mengejar Indeks Prestasi (IP) tertinggi. Pewaris estafet dan agen perubahan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik hanya isapan jempol belaka. 

Maka dari itu, untuk memahami peradaban bangsa Indonesia tidak terlepas dari sejarah peradaban bangsa ini. Lalu sudah seyogyanya kampus sebagai pusat intektual untuk membangun peradaban agar terciptanya manusia yang huumanis dan religius. Dan oleh karenanya masyarakat kampus (dosen, mahasiswa) harus lebih cerdas membaca perubahan zaman, pilihan kembali menanamkan dan menjiwai pendidikan karakter secara mental maupun karakter seperti di dalam bait lagu Indonesia raya bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Salah satu cara mengembalikan kejayaan Indonesia adalah dimulai dari kampus masyarakat kampus harus bisa berkontribusi besar membangun peradaban di tengah-tengah masyarakat. Seperti perkataan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh mengubah dunia.

Fitrah

Kepala Badan Bidang Informasi Dan Komunikasi DPP GMNI

Leave a Reply