Wafatnya Gunawan Wiradi,  GMNI: Kehilangan Besar Bagi Indonesia
Ketua Umum DPP GMNI Bung Imanuel Cahyadi Melayat Ke Rumah Duka.(Foto : Dok.GMNI)

Wafatnya Gunawan Wiradi, GMNI: Kehilangan Besar Bagi Indonesia

Jakarta, Gmni.or.id – Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, yakni Gunawan Wiradi, pakar Reforma Agraria yang menghembuskan nafas tetakhirnya pada Senin (30/11/2020) di Rumah Sakit Mulia Bogor.

Tokoh nasional yang juga pendiri Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bogor tersebut wafat di usia 86 tahun. Pria yang dikenal sebagai Tokoh Reforma Agraria Indonesia tersebut memiliki peranan penting dalam perjalanan sejarah Indonesia karena ikut terlibat dalam pembentukan Undang Undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960 di masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Kepergian tokoh nasional yang sekaligus dianggap sebagai guru kader di GMNI tersebut, menyisakan duka yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi kader-kader GMNI. Ketua Umum DPP GMNI, Imanuel Cahyadi mengungkapkan,  kepergian Gunawan Wiradi merupakan sebuah kehilangan besar bagi Indonesia dan juga bagi GMNI.

“Segenap keluarga besar GMNI menyampaikan turut berdukacita yang mendalam atas kepergian Mas Gunawan Wiradi. Beliau adalah sosok nasionalis yang merupakan tokoh Reforma Agraria Indonesia dan juga sosok guru kader bagi kader-kader GMNI. GMNI berduka akan kepergian beliau”, ungkap Imanuel dalam keterangan resmi, Selasa (1/12/2020).

Imanuel menuturkan, Gunawan Wiradi adalah sosok yang sangat dikenal luas masyarakat dan dihormati karena perjuangannya, pengabdiannya pada masyarakat kecil, serta konsistensinya dalam perjuangan perwujudan Reforma Agraria sejati di Indonesia.

“Beliau dulu ikut sebagai panitia pelaksana Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Beliau adalah pakar agraria Indonesia dan juga pendiri Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Beliau telah menulis banyak buku tentang Reforma Agraria yang dijadikan referensi oleh pegiat agraria pemula hingga pakar, dan juga mengajarkannya bagi siapapun yang ingin belajar dan berjuang dengan konsisten demi terwujudnya Reforma Agraria di Indonesia”, tutur Imanuel.

Imanuel juga menyampaikan salah satu pesan yang sering disampaikan oleh Gunawan Wiradi pada setiap kader yang belajar darinya adalah agar tetap setia pada perjuangan rakyat demi terwujudnya keadilan sosial. Dan satu-satunya jalan untuk mencapainya adalah dengan mewujudkan Reforma Agraria sejati.

“Beliau sering berpesan bahwa tanah untuk rakyat. Buat negara berkembang yang agraris, makna kemerdekaan buat rakyat adalah hak atas tanah yang digarapnya. Oleh karena itu, jalan untuk mencapai kemerdekaan rakyat adalah dengan perjuangan mewujudkan Reforma Agraria”, tegasnya.

Imanuel juga menyinggung pengalaman hidup Gunawan Wiradi saat menjadi korban dari peristiwa G30S 1965.

“Pengalaman hidup beliau saat muda penuh jalan yang terjal. Beliau tidak menikah dan juga tidak memiliki anak. Beliau murni mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Bahkan menurut penuturan beliau, ia sempat dituduh sebagai pengikut ajaran komunis oleh pemerintah Orde Baru setelah terjadinya peristiwa G30S, walau mereka tak punya cukup alat bukti untuk membuktikan tuduhan tersebut.

Namun, peristiwa itu berbuntut pemberhentian beliau yang saat itu tercatat sebagai Dosen Pakan Ternak di Fakultas Peternakan IPB. Sejak peristiwa tersebut hingga akhir hidupnya, beliau melanjutkan hidup sebagai korban dari peristiwa G30S”, ungkapnya.

Imanuel berharap agar seluruh kader GMNI di seluruh tanah air dapat mewarisi semangat perjuangan Gunawan Wiradi.

“Mari kita warisi apinya. Semoga akan lahir pejuang-pejuang agraria lainnya dari GMNI yang  akan mengikuti jejak langkah beliau. Dan GMNI akan selalu menjadi garda terdepan dalam perjuangan mewujudkan Reforma Agraria sejati di Indonesia”, pungkasnya.

Fitrah

Kepala Badan Bidang Informasi Dan Komunikasi DPP GMNI